Rabu, 01 Februari 2012

absurd-isme indonesia


Absurd-isme Indonesia
       
Indonesia, sebuah Negara di asia tenggara dengan jumlah penduduk lebih dari dua ratus juta jiwa. Wilayah yang membentang dari sabang sampai merauke, dari titik nol kilometer di wilayah aceh sampai ke titik kilometer akhir di wilayah irian. Negara yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan, menyimpan timbunan harta karun berupa kekayaan alam di dalamnya. Dan dibalik kekayaan alam itu, banyak hal yang absurd muncul dari hari ke hari. Entah siapa yang salah, system yang salahkah? Alam? Pemerintah? Masa lalu? leluhur? Atau memang sudah seharusnya semua seperti itu?
---          
Memasuki milenium baru, indonesia siap tidak siap harus ikut serta dalam persaingan global yang di dalamnya melibatkan pula negara-negara maju. Sebagai negara dengan predikat negara berkembang, tentulah sulit dikatakan sebagai lawan yang sepadan sepertinya untuk bersaing dengan Negara-negara maju seperti amerika, jepang, jerman, china atau rusia. Tetapi niat dan usaha untuk ikut bersaing itu jauh lebih baik dibanding menjadi negara minder yang berikap pasif terhadap keadaan. Ibarat dalam pertandingan sepak bola yang dewasa ini sedang hangat-hanganya menjadi buah bibir di seantero negeri, kekalahan melawan malaysia di final piala AFF menjadi salah satu penyebab digantinya Alfred Riedl dari kursi pelatih meskipun banyak orang mendukung Riedl untuk tetap menduduki kursi pelatih.           
Kemudian muncul pelatih baru, yang dibilang memiliki kualitas atau kemampuan tidak kalah dari Riedl. Tetapi pergantian pelatih masih belum mampu membawa indonesia ke puncak kejayaan, banyak orang semakin kecewa dengan performa Timnas terutama kekecewaan dengan konsep pelatih baru tersebut sehingga muncul jargon bahwa ‘meskipun Riedl belum mampu membawa Timnas ke puncak klasemen, tapi setidaknya kami ingin melihat pemain tetap berlari di lapangan!’.           
Jadi, kaitan antara persaingan indonesia dalam mengikuti ajang pasar global dengan pertandingan bola adalah bahwa meskipun indonesia belum memiliki kapasitas yang sepadan sebagai negara-negara maju di persaingan global tapi setidaknya indonesia mau berlari di ajang persaingan pasar global. Tetapi absurd-isme muncul, kentara terlihat setidaknya antara kebijakan pemerintah dan beberapa pengusaha dalam negeri. Ketika salah satu mantan petinggi negeri ini sekuat tenaga menggalakkan himbauan agar masyarakat berwira usaha dengan meningkatkan produksi dalam negeri, mencintai produk dalam negeri, pemerintah justru malah melakukan kebijakan yang kontradiktif dengan himbauan itu. Perusahaan-perusahaan asing semakin mudah tertanam di indonesia, penanaman modal asing, begitu pula dengan barang-barang import yang tentu saja memiliki predikat high class dibanding branded dalam negeri.           
Pasar dalam negeri yang mulai menggeliat pun bisa dengan mudah terlindas produk import, yang meskipun harganya selangit masih tetap akan menjadi buruan kelompok-kelompok tertentu demi sekedar mengejar gengsi.           
Absurd-isme yang muncul kentara adalah di dunia pendidikan. Wilayah ibukota dengan segala ketersediaannya memudahkan para peserta didik mencapai nilai tinggi. Tempat les, peralatan elektronik yang semakin canggih, laboratorium untuk mempermudah penelitian, transportasi mulai dari roda dua, tiga dan empat, dan masih banyak lagi. Sehingga nilai tinggi yang dijadikan sebagai tolak ukur kelulusan pun setidaknya bisa mereka capai lebih mudah (seharusnya) karena adanya fasilitas yang mendukung. Sedangkan di wilayah yang nun jauh dari ibukota, jangankan fasilitas-fasilitas itu, belajar sehari-hari pun masih diliputi rasa was-was kalau-kalau atap kelas akan ambruk ketika hujan turun atau angin kencang sekalipun.           
System nilai boleh dibilang belum begitu tepat sepertinya untuk diterapkan di Negara ini apabila melihat belum meratanya fasilitas pendukung, baik segi materi seperti itu maupun dari segi pendidiknya sendiri. Namun, bukankah Tuhan mengatakan bahwa Dia tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang merubahnya. Artinya, bukan hal yang tidak mungkin wilayah yang nun jauh dari ibukota dengan segara keterbatasan fasilitas itu, satu hari akan melahirkan peserta didik yang memiliki kualitas jempolan.
---
Dewasa ini pemerintah masih sedang terus mencanangkan ajakan kepada warganya agar  lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi, alasannya agar mengurangi kemacetan khususnya di wilayah ibukota. Banyak program pun kemudian lahir dari era ke era, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Harga bahan bakar dinaikkan dan untuk bahan bakar tertentu hanya diperuntukkan bagi kendaraan umum, sehingga kendaraan pribadi dihimbau menggunakan bahan bakar jenis lain yang lebih mahal. Selain itu, dicanangkanlah pembangunan proyek busway, monorail (meski dicancel pembangunannya) dan perbaikan system kereta rel listrik (KRL). Kedua alat transportasi berkapasitas besar itu tentu saja tidak bisa menjangkau seluruh wilayah, maka angutan kota, bus kota, ojek atau becak mutlak seharusnya memang masih tetap dibutuhkan.
Akhirnya warga pun mulai beralih untuk menggunakan kendaraan umum yang bisa dikatakan memiliki predikat bersistem modern yang mendukung untuk membentuk Jakarta sebagai kota metropolitan, tetapi di lain pihak, maraknya kasus criminal di dalam transportasi umum membuat masyarakat semakin resah. Ada yang salah dengan system kah? Dengan kebijakannya kah? Atau memang tingkat kriminalitas memang akan meningkat seiring menurunnya kemampuan ekonomi?
Sayangnya razia yang dilakukan terlihat seperti ogah-ogahan serius, ketika ada perkara saja baru ada tindakan. Tidak ada jaminan pasti mengenai keamanan berendaraan umum jadinya, untuk mereka yang memiliki kendaraan pribadi dan mampu, bisa dengan mudah kembali ke kendaraan pribadi, sedangkan untuk kami yang tidak mampu? Tidak ada pilihan lain. Absurd memang, dimana pemerintah menghimbau untuk berkendaraan umum untuk menghindari macet dan polusi disitu pula pemerintah atau sebut saja pemerintah dan aparat(ur) negera belum mampu memberikan kenyamanan dari segi keamanan.
Merubah predikat Indonesia menjadi Negara modern, banyak image real yang dirubah. Pembangunan mall-mall, pendirian apartemen-apartemen mewah, pembangunan kawasan perumahan elite, pembangunan proyek transportasi yang lebih modern sehingga banyak kaum dengan kelas ekonomi kurang memadai semakin terpinggirkan. Sebuah foto absurd muncul karena di sebelah mall atau apartemen mewah terdapat himpitan rumah-rumah kumuh di pinggir sungai. Rumah berukuran super mini yang mungkin hampir tidak menyerupai rumah sebetulnya, dihuni secara berdesak-desakan. Tempat tinggal yang rawan banjir, rawan tergerus arus sungai, rawan penyakit dan rawan kebakaran juga banyak tingkat kerawanan lainnya merupakan tempat berteduh secara turun temurun.
Absurd memang, dengan pembangunan untuk menciptakan image metropolitan, banyak kaum/ kelompok atau golongan yang terpinggirkan begitu saja. Kenapa tidak membiarkan Indonesia atau Jakarta khususnya tetap menjadi jakartanya Indonesia, dengan becaknya dengan bajainya dengan segala ciri khas lainnya seperti tulisan di kaki burung garuda? Bhineka tunggal ika, memunculkan Indonesia di mata dunia dengan segala ke-indonesia-annya, tanpa perlu merubah jakartanya Indonesia menjadi tokyonya jepang, menjadi kuala lumpurnya Malaysia. Tapi mungkin memang sudah seharusnya begitu.           
Munculnya jejaring social mampu menjadi salah satu alat yang membuktikan kalau Indonesia masih memiliki jiwa solidaritas yang baik. Ketika ada masalah maka muncul suara-suara untuk mendukung agar masalah bisa cepat tuntas dan pihak yang dirasa merupakan pihak yang terzalimi pun bisa memenangkan perkara. Selain itu, komnas-komnas mulai lahir di Indonesia berdiri dengan kantor-kantor perwakilannya dan aktivis-aktivisnya. Memperjuangkan hak azasi manusia, hak anak dan perempuan untuk mendapat perlindungan dan hak untuk hidup. Namun, kasus yang muncul di wilayah Mesuji belakangan ini menjadi hal yang kontradiktif sekali. Dimana sekelompok orang memperjuangan soal hak azasi manusia, salah satu diantara hak azasi yang paling azasi adalah hak untuk hidup, tetapi di lain pihak sekelompok orang (tidak hanya di Mesuji) seolah-olah membuat nyawa orang itu tidak ada harganya.
---
Indonesia masih kaya dengan hutannya, kaya dengan flora dan fauna yang apabila mendapatkan perhatian benar-benar serius, masih bisa menjadi warisan berharga bagi anak cucu satu hari nanti.
Save orang utan!
Munculnya pemberitaan mengenai pembantaian orang utan secara biadab, menimbulkan kecaman keras dari para pemerhati hewan. Kemudian kasus pun bergulir dan mulai diusut, dimana-mana di jalan-jalan banyak selebaran yang dibagi-bagikan untuk mendukung gerakan save orang utan. Tetapi seiring kasus bergulir, ada hal yang kontras terasa dari solidaritas untuk save orang utan ini karena ketika jumlah orang utan berkurang di lain pihak jumlah orang miskin bertambah. Dikatakan hal yang dilematis? Tidak juga karena tidak perlu ada yang dikorbankan (semetinya). Tapi ketika mengacu pada pertanyaan, mana yang harus didahulukan?  Menjadi situasi yang dilematis.
Masih banyak lagi hal-hal absurd yang muncul dari hari ke hari, tidak akan cukup waktu untuk membahasnya apabila tidak dijeda di tengah jalan. Hal-hal yang sifatnya saling kontradiktif, saling bertolak belakang satu sama lain.
Mengutip dari puisi karangan Rosihan Anwar dalam Petite Histoire Indonesia bahwa ‘Aku tidak malu jadi orang indonesia’. Apapun yang terjadi!
Dan semua itu terangkum dalam absurd-isme Indonesia.

Dea Jiwapradja

Kamis, 19 Januari 2012

the journalist 'reason'

Sering kali harus bolos ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, membawa pakaian sebanyak-banyaknya yang bahkan bukan terlihat seperti normalnya packing untuk bepergian tapi lebih menyerupai gembolan maling yang sedang mencuri pakaian, sudah menjadi hal yang biasa. Tanpa tahu berapa lama akan pergi, tanpa tahu apakah ke rumah uwa atau rumah nenek di luar kota yang menjadi tempat tujuan dan tanpa diberitahu kenapa harus bolos lagi, aku hanya mencoba meringankan pekerjaan ibu dengan memasukkan beberapa buku pelajaran yang kuanggap penting ke dalam ransel yang akan kutenteng sendiri.
Adikku masih terlalu kecil untuk kumintai bantuan begitu aku lihat dia masih sibuk dengan botol susunya. Ibu tidak memilah-milah lagi pakaian yang akan dibawa, “yang penting bawa baju ganti saja dulu!” jelas ibu setiap kali aku menghampirinya menanyakan tentang pakaian punyaku yang akan dibawa. Sedangkan ayah, setiap akan pergi dengan acara dadakan seperti ini, ayah pasti sibuk membawa kertas-kertas usang yang ada di meja kerjanya itu. Entah apa isinya kertas-kertas yang bagiku lebih mirip bungkus gorengan di kantin sekolahku itu, tapi ayah lebih mendahulukan kertas-kertas itu dibanding hal lainnya.
Begitu sampai luar kota pun tidak jarang ayah malah langsung pergi meninggalkan kami bertiga dan kembali saat akan menjemput pulang ke rumah. Tanpa tahu apa kemana ayah pergi, tanpa tahu kenapa ayah meninggalkan kami, aku hanya diam mencoba membantu agar tidak mempersulit keadaan.
Pernah pula sekali waktu ibu membangunkanku sekitar pukul 2 dini hari, “kita antar ayah!” ucap ibuku berbisik sambil membangunkanku. Dan ternyata di depan rumah sudah ada sebuah mobil yang menjemput ayah, entah siapa mereka tapi mereka mengenakan seragam berwarna hijau dengan baret di kepalanya dan aku hanya melambaikan tangan mengantar kepergian ayah sambil berderai air mata begitu aku bertanya “sampai kapan ayah pergi?” dan ibu hanya menggelengkan kepalanya.
Pernah kutanya ibu di satu waktu  ketika aku mendapat tugas mengarang dari wali kelasku.
Aku tulis dalam tugas mengarangku kalau mesin tik adalah sahabat ayahku setiap malam, buku catatan kecil dan ballpoint adalah teman setia yang selalu menemaninya kemana pun, tape recorder dan kamera selalu di ranselnya. Lalu, ketika kutanya ibu lagi jawabnya hanyalah “ayah hanya seorang kuli tinta!”.
Kuli? Kenapa kuli tinta? Apa itu kuli tinta? Bukankah kuli itu pekerjaan tukang? Pekerjaan kasar yang mengandalkan kekuatan fisik?

Selasa, 17 Januari 2012

gaido san toshite

gaido wa ichi nichi hanashi shigoto de aru. desu kara, gaido toshite okyaku sama o annaisuru maeni, iroirona koto ni tsuite sagasanakereba naranai to ikenai. watashi tachi ga annaisuru basho no kankei ni tsuite, sono basho no tochuu de donna koto matawa mono o mieru ka tabun okyaku sama ga kiku to omotte, sorede sono kankei ni tsuite sagasu hou ga ii to omotte.
okyaku san ga kiita koto ni tsuite, gaido san wa kotaenai nara, tabun okyaku san wa gakkarisuru to omotte soreni ryoukou mo omoshirokunai ni naru to omou.
sorede, gaido toshite, zutto sonkei go hanasanakereba naranai to ikenai.
ima, gaido san toshite donna koto tsutaeru ka naraimashou.
*Yoshida Sensei ni iroiro osewa ni narimashita.
  itsuka dokoka de aitaindesu.

hajime no koto wa aisatsu de,
   mina sama, ohayou gozaimasu / Konnichiwa / Konbanwa
sorede,
  kyou wa ichi nichi mina sama no osewa o sasete itadakimasu
jikoshoukai de,
   gaido no (namae) to moushimasu
saigo wa,
  douzo yoroshiku onegai itashimasu.

rei :
 mina sama ohayou gozaimasu
 kyouwa ichi nichi mina sama no osewa o sasete itadakimasu
 gaido no dea to moushimasu
 douzo yoroshiku onegai itashimasu

koko made, ijyou desu! tsuzuku!

Nangorku, kampusku

Bukan Perjalanan Biasa

Sebuah jarak tempuh perjalanan yang rata-rata memakan waktu sekitar 90 menit dengan menggunakan alat antar identik berkapasitas besar, perjalanan yang mampu mencetak sebuah memori yang tak terlupakan sepanjang hidup.
---
            Sering terdengar candaan ringan dengan penuh tawa yang dilontarkan sesama rekan mahasiswa dari universitas lain bahwa itulah satu tempat tujuan yang letaknya jauh di luar kota atau dengan kata lain mereka menyebutnya ‘kuliah di kampung’. Untuk menanggapi hal semacam itu kalau hanya dengan kata-kata saja disertai urat penuh kesal rasanya tidak akan membuktikan apa-apa selain hanya untuk kepuasan rasa tak ingin kalah beradu argumen atau hanya untuk sekedar mengejar gengsi. Karena walau bagaimanapun candaan tetaplah candaan, menanggapinya dengan memberikan argumen-argumen serius pun justru malah akan memberi kesan yang tidak mengenakkan tetapi ibarat main bola cukuplah mengimbanginya dengan skor 1-1.
            Meskipun demikian, ini hanyalah sebuah candaan diantara kami. Candaan ringan sore hari di teras rumah kos saja. Seperti kalimat sebuah produk minuman “apapun ledekkannya, alat antar identik dengan kapasitas besar itu pun akan tetap mengantarkan sampai ke tempat tujuan.”  :)
            ---
            Berdesakkan di dalam sebuah alat antar identik dengan kapasitas besar ini, sudah menjadi makanan kami sehari-hari, mulai dari berdiri hingga tempat tujuan, duduk di samping pak sopir, duduk di dekat pintu dengan alas duduk tambahan atau pada saat-saat tertentu kursi yang semestinya untuk berdua harus dibagi tiga. Kendaraan ber-ac pun kadang-kadang rasanya sama dengan yang ekonomi non ac, panas.
            Namun tak gentar untuk kami lalui. Macet pun sudah menjadi teman kami, jalur gedung sate-supratman-achmadyani-laswi dan seterusnya ibarat kata seperti lorong dalam rumah yang sudah kami hafal. Begitu pun dengan wajah-wajah pak sopir dan kondektur yang sudah terasa tidak asing, wajah-wajah yang meskipun lelah hingga sore menjelang tetap saja menebar senyum ketika kami naik. Pengamen dan pedagang asongan pun ada beberapa diantaranya yang sudah memiliki tempat pasti hingga kami hafal kalau berhenti di satu tempat pemberhentian maka dialah yang akan muncul.
            Selama 90 menit untuk waktu normal perjalanan, akan menunjukkan nasib yang berbeda. Terkecuali di siang hari ketika arus hilir mudik sepi, maka jarang terlihat pemandangan kami bergelantungan karena semua mendapat nasib baik duduk di kursi. Tetapi pada arus padat hilir mudik yaitu pagi dan sore, maka keahlian menentukan posisi seperti saat ujian kami sering mengatakan ‘posisi menentukan prestasi’ dan begitu pula dengan sejauh mana keahlian kami agar bisa mendapatkan tempat duduk berlomba dengan yang lain dan  waktu 90 menit akan menjadi dua kali lipat pada jam macet terparah di sore hari karena kami bisa terjebak hingga 3jam di dalamnya tanpa bisa alat antar ini bergerak sedikit pun. Berdesakkan di dalamnya hingga malam menjelang kami belum bisa sampai rumah.
            Waktu yang sama yang kami gunakan untuk perjalanan setiap hari rata-rata akan selalu sama, begitu pula dengan jalur yang akan kami lalui. Tetapi walaupun tempat-tempat yang sama yang akan kami lalui, tidak pernah muncul rasa bosan sepanjang perjalanan. Hari berganti hari, ada saja suasana yang berbeda yang timbul. Satu hari 24 jam, satu minggu 7 hari merupakan rentang waktu yang sama tapi hal yang akan mengisinya itulah yang akan membuat berbeda seperti perjalanan kami selama 90 menit ini.
            Bukan rekreasi yang menjadi tujuan kami dalam menempuh perjalanan selama 90 menit ini, tapi setetes ilmu yang akan kami minta dari guru-guru kami dari hari ke hari. Proses yang akan kami jalani, bukan hanya mementingkan hasil karena sebuah senyuman yang menanti kami setiap pagi untuk mencetak kami menjadi sarjana-sarjana, yang tentu saja sepenuhnya dengan harapan menjadi sarjana yang memiliki tingkat kesantunan yang berkualitas yang membuat almamater ini tersenyum. Itulah senyum guru-guru kami, yang meskipun di satu pagi kami sudah habis-habisan merayunya bahwa itulah senyuman terindah sepanjang hidup kami tapi soal quiz tetap saja dibagikan. :D
Pemandangan yang tidak asing lagi ketika pada pagi hari kami berlarian menuju kelas (baca: kesiangan), meskipun tetap ada yang mengizinkan untuk masuk kelas setelah terlambat tapi ada juga yang hanya mengizinkan masuk kelas tanpa boleh mengisi absen, mengizinkan kami menutup pintu dari luar, atau mengizinkan masuk berdasarkan perjanjian lima belas menit. Tapi tetap itu menjadi kenangan yang tak terlupakan sepanjang hidup kami.      
Angkot gratis, jajanan di gerbang, dan ospek yang memaksa kami untuk berjalan dengan jarak yang tidak dekat setiap pagi di awal kuliah.
Semuanya terangkum, tercatat dengan rapi dalam memori kami dan tak terlupakan sepanjang hidup. Mereka yang ‘kuliah di kota’ tidak akan pernah memiliki kenangan seperti ini, tidak akan pernah tahu terjebak macet selama 3jam, tidak tahu bergelantungan sampai tujuan dan tidak tahu angkot gratis. :P
 Bukan Perjalanan Biasa, perjalanan kami adalah sebuah proses menuju tempat kami bernaung, sebuah proses yang akan mendidik kami menjadi manusia berilmu. 

Senin, 16 Januari 2012

my untitle fiction

Masih belum terlintas di benaknya, seandainya hari itu dia mengatakan 'ya' untuk menerima pinangannya mungkin hari ini ia sudah memangku dua orang bocah seperti wanita yang sekarang duduk di sebelahnya ini yang kini telah menjadi ibu dari anak-anak pria yang pernah melamarnya itu...
tapi ia tersenyum, tersenyum pada dirinya karena itu berarti kputusannya saat itu adalah keputusan yang tepat untuk dirinya... Ia pun pamit pada wanita itu karena telah lebih dulu sampai tujuan, sambil menenteng kamera dan peralatan yang digunaknnya ketika mencari berita,
ia turun dari kendaraan umum beroda empat itu.. Sambil membuang nafas lega, ia tersenyum kembali, karena inilah dunianya, dunia yang kemudian mempertemukannya dengan seseorang yang sejalan, sepemikiran dan membuatnya yakin dialah yang akan menemaninya di masa tua kelak...
seseorang yang tidak menyuruhnya berjalan di belakang, tidak juga berjalan di depan. Tapi, merangkulnya untuk berjalan di sampingnya hingga akhir...

Sabtu, 14 Januari 2012

note to myself

Aku pernah mengeluh karena belum bisa membeli mobil baru yang aku mau sampai aku lihat tetanggaku setiap hari pulang pergi hanya dengan sepeda motor

aku pernah mengeluh karena belum bisa mengganti motorku dengan mobil sampai satu hari aku melihat tetanggaku pulang pergi dengan terus mengayuh sepedanya

aku pernah mengeluh karena belum bisa mengganti sepedaku dengan motor baru sampai satu hari aku melihat tetanggaku pulang pergi hanya berjalan kaki

aku pernah mengeluh karena belum bisa membeli sepatu baru sampai satu hari aku melihat tetanggaku yang setiap hari duduk di kursi rodanya

aku pernah mengeluh karena setiap hari hanya duduk di kursi roda sampai satu hari aku bertemu saudaraku yang setiap hari hanya terbaring di tempat tidurnya

aku pernah mengeluh karena setiap hari hanya terbaring di tempat tidur sampai satu hari aku bertemu saudaraku yang hanya mampu makan nasi aking sepanjang hidupnya

sampai satu hari aku pun mampu berhenti mengeluh..

Kamis, 12 Januari 2012

antara ruang angkasa dan dasar lautan

ketika setiap orang berjalan sambil menengadah mengagumi indahnya langit, ramai  pembicaraan dengan tema ruang angkasa, aku mungkin tidak akan berlama-lama melakukannya. beranjak dari sana, karena leher ini terlalu pegal untuk terus menengadah.
lebih baik rasanya untuk tidak berlama-lama ada disana dan mengangkat kaki ke arah yang berlawanan.  kemana? ke bawah, ke dasar lautan untuk menikmati indahnya bawah laut.
berenang bukan terbang, kapal selam bukan apollo atau pesawat ruang angkasa, sampan bukan pesawat boeing atau ulang alik karena disana, di dasar laut pun masih banyak hal yang tidak kalah indahnya dengan sekedar memandangi langit dan luar angkasa yang belum bisa tangan ini sentuh.
aku menyelam ke dasar lautan, menyentuh seisinya dengan nyata dan tersenyum karena mereka begitu nyata dan begitu dekat.
ketika langit, ruang angkasa, bintang dan benda di atas sana yang hanya bisa dipandangi tanpa pernah kita sentuh, terkadang membuat kita lupa bahwa di bawah sana, di dasar lautan ada banyak hal yang bisa kita sentuh dengan tangan ini.