SELAMAT
DATANG DI KOTA BATIK. Kalimat pertama yang terlihat jelas, terpampang dengan
gagah menyambut kedatangan siapa pun yang datang ke kota ini atau siapa pun
yang menggunakan jalur lintasan yang hanya lewat di kota ini. Aku duduk bersama
penumpang lainnya, memperhatikan dengan seksama setiap sudut awal kedatangan
kota ini dari arah yang berlawanan dengan mereka yang akan meninggalkan kota
ini. Setelah “Pasta Terakhir” hari itu, inilah kehidupan baruku.
Kamis, 19 November 2015
Jumat, 29 Mei 2015
Pasta Terakhir ( 7 )
Pasta terakhir
Seperti
itu caraku mencoba mengembalikan senyum kakak yang sempat sirna. Memakan Ravioli Pasta menjadi trauma
tersendiri baginya, tapi hari ini untuk
terakhir kalinya aku mencoba mengembalikan senyum kakak dengan mengajaknya
memakan Pasta kembali.
Aku
berhasil mengembalikan senyum itu, Pasta terakhir ini berhasil membuat senyum
kakak kembali. Tapi bukan hanya itu, Ravioli terakhir ini berhasil juga membuat
Kakak kembali ke dunia dimana seharusnya dia berada. Bukan lagi hidup di dunia
fiksi atau terjebak hidup di masa lalu.
–R. Ellen-
***
“Len!”
“Ya?”
“Pasta
terakhir… Is it based on true story or someone real story?”
Aku
hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“It’s…
”
“Dikasih
ekspektasi setinggi itu… Tapi ternyata cuma kata-kata… Menurut kamu apa, Bram?”
“And
the story end???”
“Ya!”
“Ada
minta maaf atau nggak?”
“Ada…
Emang artinya apa?”
“Dia
juga mengakui kalau dirinya memang salah, mengakui kesalahannya…”
“Well…”
“Jadi
Pasta Terakhir ini, intinya pemulihan trauma…”
“Refleksi
dari rasa trauma itu sendiri…”
“Dan
saya tahu rasanya trauma hebat kayak gitu…”
“Then?”
“Untuk
bener-bener bisa pulih dari trauma hebat kayak gitu, harus kuat keinginan dari
dalam diri… Setahuku seperti itu… Melawan ketakutan, harus berani melawan diri
sendiri… Karena orang lain tidak bisa merasakan, jadi keinginan terkuat untuk
bisa pulih dari trauma harus dari dalam diri sendiri…“
Aku
hanya tersenyum.
“Then,
start to move…!”
“Start to move!”
“Your
point?”
“Kalo
Nek Sumi bilang, Jangan permainkan perasaan perempuan hanya untuk kesenangan
semata…”
Bram
tersenyum dan menganggukkan kepalanya “Start to move, my point!”.
***
- dee jp -
Kamis, 28 Mei 2015
Pasta Terakhir ( 6 )
Pasta terakhir
“Kata
temen-temen disini juga enak!!” jelasku perlahan.
Raut
wajah kakak kembali datar.
“Meskipun
tempatnya baru!”
Kakak
mulai terlihat tak fokus, terbukti dengan tangannya yang beberapa kali salah
menekan kunci sehingga alarm mobil terus berbunyi dan berhasil menarik
perhatian orang-orang di sekitar tempat parkir.
“Kak!”
aku meraih kunci mobil dari tangan kakak.
Kakak terhenyak dan sadar.
“Ini
restoran Italy yang aku ceritain!” aku menarik kakak untuk segera beralih dari
tempat parkir.
Aku
merasakan tangan kakak gemetar, wajahnya kini terlihat pucat. Tak ada kata yang
keluar dari mulutnya, tatapannya kosong. Caraku dengan membawa kakak kembali ke restoran Italy
seperti ini pasti mengembalikan sepenuhnya semua bayangan Bang Icha, tapi harus
kulakukan karena aku ingin kakak kembali. Kakak tetap harus melanjutkan hidup
dan mengikhlaskan Bang Icha yang telah berada di alam keabadian untuk menjadi
masa lalu.
“Kak!”
Kakak
kembali diam.
“Satu
suap aja!” rayuku.
Kakak
masih diam tak bergeming.
Jantungku
berdebar kencang, aku takut gagal lagi mengembalikan senyum kakak. Tapi
tiba-tiba bibir tipis kakak bergetar sambil menghembuskan nafasnya.
“Untuk
terakhir kalinya ya, De!” ancam kakak sambil mengacungkan jari telunjuknya ke
arahku (lagi).
“Oke!”
jawabku senang dengan mengacungkan jempol.
Lalu
kakak melahap satu suapan Ravioli Pasta tiga rasa yang telah dipesan.
Aku
menundukkan kepala, memejamkan mata dan berdo’a, aku takut gagal lagi, gagal
lagi untuk mengembalikan senyum kakak. Tapi…
“Untuk
terakhir kalinya!!!” ucap kakak lagi.
Aku
langsung menengadah.
Kakak
kembali memakan Ravioli Pasta yang ada di hadapannya dengan senyum mengembang.
***
- dee jp -
Rabu, 27 Mei 2015
Pasta Terakhir ( 5 )
Pasta terakhir
“Ayo,
kaaakkk!” rengekku sambil menarik tangan kakak agar segera keluar dari mobil.
Raut
wajah kakak datar tanpa ekspresi.
“Kak, Pleeeaassseee!”.
Kakak
tetap tak bergeming tanpa ekspresi.
“Kak?”
Kakak
masih tak bergeming, diam di balik kemudi. Tidak mengangguk, tapi tidak juga mengiyakan permintaanku untuk
turun dari mobil.
Hari
ini, lagi, aku mencoba untuk mengembalikan senyum kakak meski aku tahu ini takkan mudah. Mungkin ini untuk
yang terakhir kalinya aku mencoba melakukan hal ini, aku hanya ingin membuat
kakak kembali ceria.
“Terakhir
ya!” ucap kakak sambil mengarahkan telunjuknya ke mukaku.
Aku
tersenyum sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan sebagai
tanda aku berjanji.
Akhirnya
kakak turun juga dari mobil.
Aku
masih melihat ketakutan itu, aku masih melihat raut wajah dingin itu meski
kakak berusaha tak terlihat demikian. Hati kakak masih belum bisa melupakan
semua kenangan Bang Icha, kakak masih ada dengan Bang Icha yang telah pergi ke
alam keabadian.
Bayangan
Bang Icha masih belum bisa kakak lepas.
Tapi
mau sampai kapan?
Itu
pertanyaan dalam benak yang tak pernah bisa kusampaikan pada kakak. Bukankah
kakak harus melanjutkan hidup, harus bisa segera melepas bayangan Bang Icha, kakak
harus hidup normal seperti yang lainnya. Tak mungkin kakak kelak berrumah
tangga dengan tokoh fiksinya atau dengan bayangan Bang Icha.
Meski
aku dan seluruh keluarga tahu, tak satu pun dari kami yang pernah merasakan hal
yang kakak rasakan. Hanya kakak yang tahu seperti apa rasanya harus menerima
kenyataan ditinggal seseorang yang dicintainya menjelang detik-detik terakhir.
***
- dee jp -
Langganan:
Postingan (Atom)