Rabu, 11 Juli 2012

30 hari Camp KKNM UnPad -->> (part 1)

KKNM atau Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa yaitu program yang diberikan universitas kepada mahasiswa tingkat tiga dalam rangka belajar berkecimpung dan terjun langsung di masyarakat. Kalau dulu program yang dicanangkan hanya  bertemakan pembelajaran kepada masyarakat berdasarkan ilmu yang telah diperoleh di universitas, kini atau tahun-tahun belakangan ini universitas menambahkan program dalam pelaksanaannya sehingga tema yang diusung dalam pencanangan programnya pun mengalami perubahan.
Universitas kini mencanangkan program dengan tema baru yaitu belajar bersama masyarakat. Artinya, mahasiswa yang mengikuti program KKNM ini selain memberikan program kepada masyarakat berdasarkan ilmu yang telah diperoleh di universtias, mahasiswa juga harus belajar dari masyarakat itu sendiri. Belajar dari masyarakat, mempelajari apa yang menjadi mata pencaharian masyarakatnya, mempelajari apa yang menjadi ciri khas produk yang ada di masyarakat, mempelajari budaya dan kesenian setempat.
Program KKNM ini diikuti oleh seluruh peserta didik universitas. Tanpa dibatasi jurusan dan fakultas, semua akan berbaur menjadi satu. Baik dari ilmu sosial maupun eksakta, tetap akan dicampur dalam satu kelompok-kelompok kecil. Tidak peduli apakah itu dari kedokteran gigi atau pun dari sastra, asalkan kuota masing-masing kelompok KKNM dari tiap-tiap fakultas terpenuhi maka jadilah satu kelompok satu desa. Satu fakultas kurang lebih memiliki kuota tiga orang mahasiswa untuk satu kelompok KKNM, dikalikan dengan jumlah fakultas yang ada jadi sedikitnya satu kelompok akan mencapai sekitar 18 orang.
Dari segi waktu pelaksanaannya, program KKNM ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi satu adalah program KKNM yang bisa dilakukan di wilayah-wilayah yang bisa dijangkau dengan cepat secara pulang pergi dari kampus, karena program sesi satu ini diselenggarakan selama perkuliahan berlangsung. Program ini lebih menggambarkan pencanangan program lama dimana mahasiswa hanya memberikan program kepada masyarakat dan tidak menyelenggarakan program yang mencanangkan tema belajar bersama masyarakat.
Program sesi satu ini, dilakukan antara dua sampai tiga bulan karena sedikitnya waktu yang dimiliki mahasiswa untuk berada di lokasi KKN berhubung dalam penyelenggaraannya mahasiswa harus berbagi waktu dengan jadwal kuliah. Waktu yang sedikit harus sangat dimanfaatkan dengan memusyawarahkan jadwal piket kelompok yang disesuaikan dengan jadwal perkuliahan masing-masing, sehingga setiap harinya tetap ada mahasiswa yang piket di desa tempat KKN berlangsung.
Sedangkan program sesi dua adalah program KKNM yang sepenuhnya diselenggarakan selama 30 hari di desa-desa yang bisa dibilang jaraknya cukup jauh dari universitas. Program sesi dua ini diselenggarakan pada libur semester, baik semeseter alih tahun atau libur semester ganjil. Program ini dilangsungkan seperti sebuah camp karena mahasiswa selama 30 hari akan berada di lokasi dan tinggal di rumah warga, baik dengan cara menyewa satu / dua rumah warga atau pun ada juga warga yang secara sukarela mempersilakan rumahnya dijadikan tempat tinggal bagi mahasiswa-mahasiswa yang sedang KKN.
Setelah kuota kelompok KKN terbagi dan terorganisir dengan rata, setiap mahasiswa yang telah mendaftar akan terbagi-bagi menjadi kelompok KKN di beberapa kota per desa masing-masing maka mahasiswa akan mulai diberi pembekalan. Program pembekalan kurang lebih diselenggarakan selama tiga hari, penempatan kelas kelompok pembekalan sudah harus sesuai dengan kelompok KKN berdasarkan desa masing-masing yang berada dalam cakupan kota kecataman atau kota kabupaten yang sama.
Program pembekalan diadakan guna memberikan gambaran mengenai situasi dan lingkungan desa tempat masing-masing kelompok. Mulai dari kontur wilayah, kondisi masyarakat, kondisi alam, pendidikan, mata pencaharian rata-rata penduduk yang bisa dijadikan program belajar bersama masyarakat. Selain gambaran mengenai kondisi wilayah, program pembekalan ini terutama memberikan arahan agar mahasiswa membuat program yang tidak terlalu timpang dengan situasi masyarakat sehingga program yang akan diadakan akan lebih terarah.
Selain pengarahan mengenai program dan gambaran mengenai kondisi wilayah, dalam program pembekalan ini biasanya dijelaskan pula mengenai teknis selama penyelenggaraan KKN berlangsung. Berkaitan dengan tidak adanya mahasiswa yang pernah melaksanakan program KKN, maka salah satunya mengenai teknis keberangkatan dan teknis barang bawaan pun biasanya dijelaskan pula dalam program pembekalan ini.
Pasca mendapat pengarahan dan pembekalan, universitas bertanggung jawab pula melepas lalu mengantar peserta didiknya hingga lokasi KKN. Secara serempak seluruh tim akan dilepas pada hari yang sama. Diiringi satu orang dosen pembimbing, maka program KKN siap dilaksanakan.

Program KKNM
Pada hari pertama ketibaan di tempat KKN, biasanya mahasiswa dan dosen pembimbing akan disambut oleh kepala desa dan aparat desa. Setelah acara penyambutan, dosen pembimbing dan kepala desa akan langsung memberikan pengarahan mengenai teknis selama berada di desa. Seperti untuk selalu mengenakan jas almamater apabila bepergian atau mengenalkan diri agar bisa lebih dekat lagi dengan masyarakat. Setelah pengarahan selesai, para peserta akan langsung survey berkeliling desa dengan diiringi aparat desa. Apabila memungkinkan, dua atau tiga orang mahasiswa akan ikut dosen pembimbing sementara waktu untuk mengikuti acara penyambutan di wilayah kecamatan.

Selasa, 10 Juli 2012

My Life As Gaido San


Gaido San diambil dari bahasa jepang, sebagai sapaan atau panggilan orang jepang kepada pemandu wisatanya. Gaido berasal dari bahasa inggris yaitu Guide atau pemandu wisata dalam bahasa indonesia, ditambah kata San sebagai tambahan kata sapaan hormat (untuk menghormati lawan bicara) dalam bahasa jepang yang kurang lebih bisa diartikan dengan bentuk sapaan hormat Mas, Mbak, Pak, Bu atau bentuk sapaan lainnya menghormati lawan bicara dalam bahasa Indonesia.
Gaido san atau pemandu wisata adalah pekerjaan berbicara seharian penuh atau pekerjaan yang sepenuhnya berbicara selama memandu wisata apabila wisata tersebut dilakukan lebih dari satu hari. Definisi pemandu wisata / tour guide / gaido san menurut Wikipedia adalah seseorang yang memberikan bantuan, informasi budaya, historis dan kontemporer interpretasi warisan kepada orang-orang pada wisata-wisata terorganisir, klien individu, instansi pendidikan, di situs-situs keagamaan dan sejarah, museum dan tempat-tempat lainnya yang menarik perhatian, yang biasanya memiliki kualifikasi wisata nasional atau regional diakui panduan.
Gaido san atau pemandu wisata dibutuhkan dalam satu tour wisata baik untuk wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara, baik ada yang menawarkan diri secara individual atau dari travel-travel tertentu untuk mereka-mereka yang ingin berwisata dan membutuhkan seseorang untuk menunjukkan rute, memandu rute dan menerangkan berbagai macam hal mengenai lokasi yang dikunjungi selama berwisata. Selintas, pekerjaan sebagai pemandu wisata ini hanya pekerjaan mudah dimana seseorang hanya berbicara dan memandu sepanjang jalan. Padahal sebetulnya ada banyak hal yang menjadi tanggung jawab besar yang harus dipegang Gaido san atau seorang pemandu wisata.
Pengetahuan, merupakan hal pertama yang harus dimiliki Gaido san atau pemandu wisata. Misalnya seseorang yang sedang memandu di sebuah gedung tua yang bersejarah, maka pemandu wisata wajib untuk tahu mengenai sejarah berdirinya, tahun berdirinya, tujuan berdirinya, luas, lebar, fungsi serta banyak hal detail lainnya yang kemudian akan menjadi penjelasan yang akurat kepada wisatawan yang sedang dipandunya. Hal selanjutnya, Gaido san sebisa mungkin membuat penjelasannya menarik sehingga tidak membuat wisatawan yang dipandunya beralih perhatiannya kepada hal yang lain. Situasi yang memungkinkan terjadi ketika pemandu wisata atau Gaido san sedang menjelaskan dan penjelasannya tidak menarik adalah secara perlahan-lahan wisatawan akan mulai tidak memperhatikan Gaido san sekalipun Gaido san sedang berbicara.
Berikutnya mengenai etika. Etika menjadi hal penting yang harus dimiliki Gaido San. Sopan santun terhadap wisatawan ketika memandu, tersenyum dan ramah menjadi faktor yang hanya seperti embel-embel dan berupa tambahan tetapi sebetulnya penting untuk dilakoni. Karena pekerjaan sebagai Gaido san atau pemandu wisata ini, apabila dimasukkan ke dalam kluster-kluster maka termasuk ke dalam kluster yang satu lingkup dengan pekerjaan teller atau customer service di Bank, pekerjaan sebagai Front Office Staff di hotel dan pekerjaan lainnya yang penampilan dan senyum menjadi faktor pertama yang menjadi penilaian tamu / nasabah atau pengunjung.
Selain itu bagi seorang Gaido san, mencoba membuat definisi-definisi singkat menjadi hal yang penting terutama bagi Gaido san yang memandu wisatawan asing. Seperti misalnya ketika tamu yang dipandunya menanyakan apa yang dimaksud dengan blangkon? Apa itu nasi timbel atau apa itu kain batik. Definisi yang meski singkat tapi setidaknya pilihlah kata-kata yang akan mudah dicerna oleh wisatawannya. Penting juga untuk diketahui salah satu misalnya ketika mengunjungi lokasi wisata adalah harga barang-barang, harga tiket atau jam berkunjung.
Gaido san atau pemandu wisata dari travel-travel biasanya akan memakai seragam tertentu dan berpakaian rapi, sedangkan Gaido san secara individu biasanya lebih berpakaian fleksibel atau santai. Menjadi Gaido san atau pemandu wisata, banyak lah membaca, banyak lah berbicara dan tampil lah meyakinkan agar setidaknya wisatawan yang dipandu akan merasa tenang melihat orang yang memandunya merupakan seseorang yang tahu akan kemana, tahu sedang berada dimana, tahu harus kemana dan tahu harus apa. Karena bagaimana jadinya apabila seorang pemandu wisata atau Gaido san yang sedang pergi memandu tamunya tapi ketika tamu bertanya dan bingung, Gaido san pun malah terlihat lebih bingung dan balik bertanya lalu mulai ketar-ketir tidak tahu apa yang harus dilakukan?
Memandu tamu secara individu, bisa dilakukan secara lebih fleksibel dan lebih bisa menonjolkan suasana pertemanan. Tetapi ketika memandu rombongan tertentu, baik rombongan wisata dari institusi formal atau rombongan dari paket tour anak-anak sekolah, maka harus ada schedule baku tertulis yang telah disiapkan.
Sebagai pemandu paket tour, pemandu wisata atau Gaido san bisa mengawalinya dengan memperkenalkan diri sebelum tour dimulai. Kemudian menjelaskan jadwal atau schedule hari itu, menjelaskan kemana saja tempat-tempat yang akan dikunjungi. Jam berkunjung lokasi wisata, waktu dan tempat makan (mulai dari sarapan hingga makan malam), jam istirahat, lamanya waktu kunjungan dan lamanya perjalanan yang akan ditempuh wajib menjadi faktor utama yang menjadi pertimbangan bagi Gaido san ketika membuat schedule. Kemudian, menjelaskan perlengkapan dalam bis (apabila menggunakan bis) seperti misalnya kantung yang bisa digunakan ketika mabuk perjalanan, obat-obatan ada dimana, ketika keadaan darurat haru bagaimana dan hal lain yang terkait dengan perjalanan.  
Satu hal penting bagi pemandu wisata atau Gaido san adalah harus selalu mengecek tamu atau wisatawan yang harus dipandunya, maka buatlah daftar nama dan berapa jumlah wisatawan yang sedang dipandunya. Demi menghindari hal yang tidak diinginkan seperti kehilangan salah satu anggota tour, maka pengecekan biasanya selalu dilakukan ketika akan naik bus kembali atau ketika baru turun dari bus dan baru akan masuk ke lokasi wisata lainnya.
Gaido San atau pemandu wisata, pekerjaan berbicara seharian penuh. Banyak hal penting pula yang harus diketahui terkait lokasi, jalur yang dilalui dengan akurat dan apa saja hal penting yang perlu untuk disampaikan kepada wisatawan yang dipandunya, karena keakuratan informasi menjadi hal yang penting. Kondisi tubuh yang fit, harus diutamakan selain pengetahuan dan tampilan yang meyakinkan. Tetap tersenyum dan selalu ramah!

Senin, 09 Juli 2012

Levitasi

Levitasi adalah salah satu jenis tekhnik fotografi dimana objek menjadi terlihat seperti sedang melayang pada gambar yang dihasilkan. Teknik Levitasi ini booming setelah muncul foto-foto melayang yang diposting oleh Natsumi Hayashi di dalam yowayowacamera(dot)com, dimana gambar-gambar objek pada foto terlihat seperti melayang tanpa alat bantu apapun.
Kata levitasi itu sendiri, menurut salah satu komunitas Levitasi di ibukota bahwa Levitasi berasal dari bahasa Latin yaitu Levitas yang berarti ringan, sehingga membuat teknik fotografi levitasi ini menjadi menarik karena gaya yang dihasilkan dari foto tersebut seolah menceritakan perlawanan terhadap gaya gravitasi bumi.
Teknik yang dilakukan untuk menghasilkan gambar, objek harus melompat pada saat pengambilan gambar. Bisa sampai puluhan kali objek diharuskan melompat sehingga menghasilkan gambar yang sesuai yang membuat objek terlihat seperti sedang melayang secara alami. Maka kendala yang harus dihadapi dalam teknik fotografi ini salah satunya adalah dari objek itu sendiri, dimana objek diharuskan melompat sampai mendapat hasil yang terlihat natural.
Untuk bergabung dan menyelami fotografi levitasi ini, kini ada komunitas yang bisa diikuti. Selain bisa untuk sharing, belajar ilmu dan memposting foto-foto hasil sendiri, dari komunitas ini bisa juga dijadikan sebagai ajang pertemanan dan berkumpul dalam satu komunitas yang memiliki passion yang sama. Salah satu diantaranya adalah melalui Levitasi hore, yaitu komunitas fotografi levitasi Indonesia. Komunitas ini menyatakan bahwa siapa pun yang tertarik bisa bergabung, dengan kamera apapun, baik menjadi fotografer atau menjadi model. Sebagai referensi untuk hasil-hasil fotografi levitasi dan informasi lengkapnya bisa dilihat di levitasihore(dot)net atau (at)LevitasiHore.
So, selamat mencoba untuk menjadi melayang!!!


Minggu, 27 Mei 2012

mylife as journo

A great many people who want to be writers say that they want to have a career in journalism. They may envision themselves going to exotic locales to cover stories or winning a Pulitzer prize. While these things do happen to journalists, it takes a long time to make your bones before you are sent on any interesting assignments.

I became a journalist purely by accident. Unlike others who seek out journalism as a career, I wanted to be a writer. I envisioned myself writing books of fiction and entertaining the masses. My parents talked me into going to college and getting a degree in journalism. They told me that it was a good idea to have something to fall back on, in case I couldn’t make a living writing fiction for a living. Five years and 100 rejections later, I realized they were right. Fortunately, my degree in journalism helped me support myself so that I didn’t have to go back home after I got out of school.


I had no idea what a journalist did until I got my first job at a local paper when I was still in school. I was hired as a stringer and had to report on meetings. It was boring, but it paid for extras. Someone said that I was a journalist and I realized that I was actually working in a field for which I was studying.


A journalist is someone who reports on timely events. Timing is everything to a journalist. Whether you write for a periodical or a newspaper, you need to make sure that your articles are timely. Your purpose is to keep the public as up to date as possible when it comes to news and events that may affect them. This is the basic concept of being a journalist.


Since I became a journalist, I have made many mistakes. I’ve broken the rules a few times but learned lessons from each rule that I broke. It has taken me six years since I first started getting paid for my writing as a journalist, but in that time, I have become a good journalist. While my assignments are not exotic and I have yet to win that Pulitzer prize, I make a decent living and do something that I really enjoy.


If you are thinking about becoming a journalist, you have to remember that the following rules apply:


1. Impartiality. You should report on all sides of a story, not just take one side, even if it appears that one side is right or wrong. A good journalist gets all sides of the story, prints it and then lets the ready decide, based upon the article. A good journalist does not make up the reader’s mind for them.


2. Timeliness. Your stories have to be timely. You do not have a compelling story about something that happened 20 years ago unless it can relate to what is happening now. Journalism is in the now - the immediate present. You have to relate even historic pieces to what is happening right now.


3. Facts. There is an old saying in journalism that still is used in the field today that states “If your mother says she loves you, check it out.” Check and re-check your facts. Be sure that you double check on names and spelling as well.


If you get to know and follow these three rules, your career in journalism will be one that is very successful. If you break the rules - don’t worry. I’ve broken all of them and I’m still standing. Just don’t do it again. Some people like to learn in a trial by ordeal. I am one of them. But if you consistently break the golden rules of journalism, your career will suffer.


As a journalist, it is your job to reveal information to the public. This should be impartial, timely and truthful. To get into the computer system of the first journalism job that I had, the password was “truth.” You have to write the truth of what you see and hear and let the public form an opinion. You need to always quote sources when you are writing a journalism piece as you should not attribute anything to your own knowledge. Your articles should be written from a third person point of view and from the outside looking in.


As you continue in your career, you will find your voice when it comes to your writing. Do not be surprised if your first articles are rewritten by your editor. Another rule that you need to learn when you are starting a career as a journalist is to not fall in love with your own work. Do not feel hurt if an editor does not like a phrase in your article, or makes some changes. They are only doing their job. You will soon get to know the editor and they will get to know your style of writing.


A journalist usually gets a job as a news reporter, and both news reporting and journalism are careers that are interchangeable. While many people think of journalists as writing on top stories or features all over the world, the education that you need to become a newspaper reporter and to be a writer for a magazine is the same - a degree in journalism. Anyone who writes an impartial article, be it news or feature stories, is practicing journalism. If you choose to have a career in journalism, you will most likely get many different assignments in your career. The basic rules of journalism apply to everything that you write.


Many people feel that newspaper reporters only report the news and give more credit to journalists as they investigate the news - this is not true. Most newspaper reporters do a fair share of investigation into their stories, or should. Those who report on crimes in the area and court actions are usually editors who have done their fair share of investigating in their stories. You will quickly learn, when you are embarking on a career in journalism, that the more you look into a story, the better the story will be. Sometimes you have time to do this, other times you are working on a tight deadline.


You should be able to work on a tight deadline when you are a journalist. Not only is this important if you are writing news stories, but it is also great training for any writer. The more you write, the more concise your work will become and the better quality you will be able to churn out in record time.

*copy paste tulisan orang yaaaa yg iniiii... karena saya suka banget isinya, tapi lupa tulisannya siapa* :)

Rabu, 07 Maret 2012


Damri dan kondektur
-Sekelumit cerita di pagi hari-

Dia tersenyum ramah saat seorang wanita naik, lalu dia kembali menancap kembali gas untuk melaju tepat setelah wanita yang naik tadi dipastikan telah duduk. Selang beberapa menit setelah melaju sekian meter dengan kecepatan normal, temannya yang sejak tadi hanya berdiri di belakang kemudian memberi isyarat agar dia menginjak rem dan menepi. Dia menurut saja lalu menepi dengan hati-hati setelah memastikan semuanya aman. Beberapa anak berseragam sma pun naik, sambil melambaikan tangan dan senyum riang menyambut pagi ketiga anak itu pun menyapanya. Lalu, sama seperti sebelumnya, setelah memastikan ketiga anak sma tadi aman, barulah dia melaju kembali menginjak gasnya.
            Sinar mentari pagi menembus kaca, membuat silau tapi sinarnya menghangatkan udara yang dingin setelah semalaman hujan mengguyur seluruh kota. Meskipun ada beberapa yang menutup kaca dengan gordyn untuk menghalau sinar yang masuk, tapi aku tidak karena aku ingin kulitku yang kedinginan bisa bersentuhan dan merasakan hangatnya sinar mentari pagi. Mereka yang menutup gordyn pun kini mulai nampak terlelap Pemandangan ini bukanlah pemandangan yang asing lagi bagiku. Meskipun setiap hari kulalui, tapi aku selalu merasa ada yang berbeda setiap pagi.
            Seorang bapak, ahh seorang kakek lebih tepatnya, seorang kakek yang masih tampak segar bugar dengan pakaiannya yang rapih dan rambutnya yang sudah dipenuhi uban, terlihat sedang asyik membaca surat kabar pagi. Matanya terus berjalan menari mengikuti tulisan-tulisan yang tercetak di surat kabar pagi yang membutuhkan kedua tangannya untuk menahan karena harian ibukota ini memiliki ukuran kertas yang lebih lebar dibanding surat kabar harian lainnya. Kening si kakek mengerut dan matanya semakin ditajamkan setelah membuka halaman berikutnya. Kepalanya sedikit menggeleng dan mulutnya terlihat berdecak, si kakek sepertinya merasa tidak habis pikir dengan berita tersebut. Meskipun aku tidak tahu apa yang dibacanya, aku hanya membaca ekspresi saja.
            Kemudian si kakek mengambil kantung di sampingnya ketika seorang ibu menghampirinya sambil tersenyum, mereka pun duduk berdampingan. Si kakek hanya berusaha berbasa-basi sebentar, tapi kemudian si kakek kembali fokus dengan surat kabarnya. Si ibu yang baru duduk pun hanya memandang kosong, berusaha agar si kakek yang duduk di sebelahnya tidak merasa terganggu.
              Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun, rasanya enggan berbincang-bincang atau basa-basi apalagi sampai bergosip. Nggak mood kalau kata ponakan-ponakanku yang masih smp. Aku hanya menikmati pemandangan di luar saja, mengintip dari kaca-kaca lebar yang terpasang sampai sekitar sepuluh senti di bawah bahuku. Seorang laki-laki yang boleh dibilang ganteng lah, duduk di sebelahku. Aku hanya tersenyum untuk basa-basi, kemudian aku kembali dengan diriku sambil mendengarkan musik dari ponselku.
            Dia, ya dia tetap konsentrasi. Konsentrasi dengan dirinya dan konsentrasi pada suara temannya yang masih terus dan memang selalu berdiri di belakang. Lalu terdengar suara ‘ting-ting-ting’, dia pun menginjak rem perlahan-lahan dan berusaha menepi. Dia membukakan pintu, kemudian temannya melongokkan kepalanya dan melambaikan tangan. Dia sabar menunggu perintah temannya untuk kembali menginjak gas.
            Seorang perempuan, yaahhh sepertinya sebaya denganku muncul dari belakang dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari-lari kecil agar dia tidak terlalu lama menunggu. Tapi aku yakin, meskipun perempuan itu berjalan dan agak lambat, dia dan temannya akan sabar menunggu dan tetap tersenyum. Dia dan temannya adalah orang yang baik, mereka tidak akan mencampur adukkan masalah keluarga, masalah pribadi karena mereka akan selalu tersenyum menyapa semua orang yang baru naik.
            Ada banyak cerita di dalamnya. Beberapa orang terlihat sibuk dengan text book di tangannya, bola matanya sibuk mondar-mandir meraba cetakan tulisan kemudian mereka menengadah dan komat-kamit. Aku sempat merasa geli, itulah cara mereka menghafal tapi imajinasiku berkata lain. Aku membayangkan mereka sedang menghafal mantra, seperti mbah dukun yang sedang komat-kamit saja. Aku tersenyum geli, karena aku pun sering melakukan itu.
            Dia, ya di dan temannya pun kembali melaju. Dengan penuh senyum, berhati-hati perlahan-lahan takut kalau ada yang tak terlihat.
            Mereka berdua lah orang yang menurutku, mereka adalah orang yang setiap hari bekerja untuk mengantarkan para calon pemimpin bangsa. Meski hujan, meski terik, toh mereka tetap tidak berhenti bekerja, dengan senyum mengantar jemput kami.
            Mereka lah sopir dan kernet damri.
            Setiap pagi berangkat dari dipati ukur menuju jatinangor. Terus hingga malam menjelang.

Jumat, 02 Maret 2012

KKNM Balegede


Balegede, the untold story in west java
                                                                                                 
Balegede, sebuah desa kecil yang terletak di wilayah perbatasan kabupaten bandung dan kabupaten cianjur. Desa ini secara territorial sebetulnya merupakan bagian dari wilayah kabupaten cianjur, tetapi secara praktis, desa ini lebih dekat dengan wilayah kota kabupaten bandung. Masih dibutuhkan waktu 5 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat dari desa ini untuk bisa sampai ke kota cianjur, sedangkan untuk bisa sampai ke kota kabupaten bandung hanya dibutuhkan 3 jam perjalanan, lebih singkat 2 jam perjalanan.
Pasca melewati kawasan wisata alam ciwidey, masih akan dibutuhkan 1,5 jam perjalanan lagi untuk bisa sampai ke balegede. Melalui perkebunan teh ranca bali milik PT. Perkebunan Nusantara, perkebunan teh yang sejauh mata memandang nampak seperti hamparan karpet alam berwarna hijau. Selain itu, perkebunan sayur dan buah akan memanjakan mata kita juga sepanjang perjalanan. Selepas itu, perjalanan akan mulai ditemani dengan kawasan perbukitan, dimana suasana bukan lagi perkebunan tapi berganti dengan suasana hutan pinus.
Udara mulai dingin dan akan semakin dingin, menandakan perjalanan semakin dekat dengan desa balegede. Kalau di cipanas ada puncak pass, dalam perjalanan menuju balegede pun akan ada tempat yang hampir serupa. Bukan hotel atau café dan tempat-tempat makan modern yang akan ditemui, tapi hanya warung-warung nasi kecil saja atau warung-warung yang hanya  menyediakan kopi tubruk hangat saja yang ada. Bentuk warungnya pun tradisional, tapi ketika duduk disana, mata akan disuguhi pemandangan luar biasa. Hamparan alam luas yang diselimuti kabut tipis.
Sepanjang perjalanan kita hanya akan melalui jalur setapak, dimana setiap kendaraan yang berpapasan di sepanjang perjalanan, maka salah satu kendaraan harus ada yang mengalah dengan menepikan kendaraannya agar kendaraan dari arah lawan lebih dulu bisa berlalu, setelah itu barulah perjalanan bisa dilanjutkan kembali.
Perjalanan akan terasa sangat panjang, atau mungkin rasanya tidak sampai-sampai juga ke tempat tujuan bagi yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke balegede. Kanan-kiri hanya pohon-pohon tinggi saja yang terlihat di penghujung mulut menuju gerbang desa balegede, jarang atau memang hampir tidak akan pernah menemukan orang di pinggiran jalan karena jauhnya kawasan rumah penduduk dari mulut hutan. Tetapi usai melalui hutan pinus, di ujung sanalah tempat dimana tersimpan cerita yang belum terungkap.

The untold story
Banyak tempat yang masih perawan atau belum terjamah dengan kekuatan pasar yang berani merubah alam menjadi mesin pencetak uang tanpa memikirkan efek buruknya. Tetapi  balegede, bersyukurnya masih memiliki pesona asli yang belum tersentuh. The untold story in west java yang dimiliki balegede adalah berupa sumber kekuatan alam dan produk pilihan alam.
Diantara sekian banyak sumber kekuatan alam, tersangkut beberapa diantaranya yang hadir di balegede. Kekuatan alam yang hadir dengan segala eksotismenya, mampu menjadi timbunan harta karun yang bisa diwariskan satu hari nanti. Penduduk yang masih berpola pikir sederhana, ternyata berhasil membuat alam menjadi bersahabat.
Balegede memiliki banyak sumber kekuatan alam yang bisa bersaing dengan sumber kekuatan alam di tempat lain. Adanya air terjun, sungai yang mengalir nan jernih dengan bebatuan alam di tengahnya, pegunungan yang landai adalah bagian dari sumber kekuatan alam yang belum terjamah di sana.
Air terjun yang jumlahnya mencapai belasan ini, tentu saja tidak dengan begitu saja mudah dijangkau. Akses yang lumayan sulit menjadi salah satu kendala, karena hanya kendaraan roda dua yang bisa digunakan untuk mempercepat waktu agar bisa segera sampai. Tapi justru sebetulnya perjalanan dengan kaki lah yang membuat alam semakin terlihat indah.
Butuh waktu sekitar satu atau dua jam setengah untuk bisa sampai ke beberapa sumber air terjun dengan berjalan kaki dari perumahan warga. Diantara beberapa perangkat desa yang berbaik hati menjadi pemandu arah, ternyata banyak cerita yang bisa kami peroleh mengenai balegede. Sambil berjalan menikmati alam balegede, sambil mengambil gambar dengan kamera yang kami bawa, sambil pula kami mendengarkan cerita yang terasa mengalir.
Selepas menikmati indahnya pemandangan air terjun, kita bisa langsung menyisir aliran sungai hingga ke hilir. Tentu tidak bisa sepanjang sungai, tapi setidaknya kita akan menemui beberapa titik dimana kita bisa merendam kaki yang lelah setelah berjam-jam berjalan kaki di air yang dingin. Sangat menyegarkan rasanya kaki yang lelah berjalan dan terbungkus sepatu kemudian seperti dicelup begitu saja.

Mitos
Dari cerita sepanjang perjalanan tentang balegede, satu diantaranya adalah mitos mengenai mahluk halus yang hingga kini masih kuat beredar di masyarakat.
Meskipun belum diketahui seperti apa kebenarannya sejauh ini, tapi masih ada mitos yang berkembang di masyarakat. Salah satu diantaranya adalah keberadaan aul, atau warga mendeskripsikannya sebagai makhluk jadi-jadian. Makhluk ini berkaki dua, dengan bentuk jejak yang menyerupai jejak kaki macan. Leher makhluk bernama aul ini bisa berputar 180 derajat,  melihat ke belakang.
Konon dari mitos yang beredar, apabila makhluk ini membuang ludang di kolam misalnya, maka seluruh ikan yang ada di kolam bisa mati begitu saja. Benar tidaknya belum dapat dipastikan, tapi selama kami berada disana, tidak pernah kami saksikan kejadian seperti itu.

Rusa di miduana
Cerita selanjutnya yang kami peroleh adalah adanya peternakan rusa di salah satu dusun yang ada di desa ini. Entah peternakan atau memang hanya peliharaan beberapa ekor saja, tapi begitu kami menyambangi dusun miduana, dusun terjauh dari di desa balegede. Dusun yang terletak di ujung tebing desa balegede, berbetasan dengan tebing curam menuju hutan, ada gerombolan rusa yang mendiami sebuah taman berpagar kawat.
Tidak begitu jelas bagaimana asal muasal adanya rusa di desa ini, tapi yang jelas kini rusa-rusa itu menjadi peliharaan warga.

Masih ‘ber-kebaya-kan’ budaya
Budaya asli yang masih menjadi pakaian lengkap, artinya budaya warisan leluhur masih dipegang dengan erat. Diantaranya, warga masih memegang erat tradisi ruwatan, yaitu acara yang dilaksanakan di ujung musim panen. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, digelar acara ruwatan. Kesenian yang biasanya mengisi acara ruwatan ini seperti acara reog, calung / angklung, degung / pertunjukkan musik dan nyanyian sunda atau pertunjukkan wayang golek.
Tempat penyimpanan padi masih berupa tempat penyimpanan padi secara tradisional, bersama-sama yang disebut leuit. Ketika musim panen tiba, warga yang telah selesai menjemur padi hingga kering, kemudian menaruh padi di leuit hingga musim penghujan tiba, maka tidak akan kehabisan padi.
Acara ruwatan ini, selain digunakan untuk istilah syukuran ruwatan bumi ketika panen tiba, digunakan juga untuk acara pindahan rumah atau acara ruwatan rumah baru.

Produk pilihan alam
Ada sumber kekuatan alam, ada pula produk pilihan alam yang dijadikan mata pencaharian masyarakat balegede. Perkebunan aren, yang menghasilkan nira untuk diproduksi menjadi gula merah yang kini menjadi produk khas balegede. Gula merah yang dihasilkan asli dari alam, terjamin kualitasnya karena tidak terkandung sedikit pun zat kimia di dalamnya.
Produk yang dibungkus dengan daun lontar kering ini, dijual di pasaran dengan harga yang benar-benar membumi.
Selain gula, ada pula kolang-kaling dan produksi ijuk atau sapu ijuk.

Perjalanan di balegede yang melelahkan, menyusuri alam yang membentang bersahabat menyambut kami, telah mencetak memori yang tak terlupakan. Masih merupakan bagian dari tanah air yang di ujung tebing sebuah dusun paling ujung, tertancap bendera berwarna merah dan putih.
Saat persediaan air minum yang kami bawa. Seorang petani lewat dengan dua bilahan bambu berisikan air nira atau mereka menyebutnya lahang, merelakan dua bilah bambu berisikan lahang untuk mengisi ulang persediaan air minum kami. Manisnya alam, manisnya air lahang, manisnya balegede, manis dalam ingatan kami.


Catatan kecil selama KKN 2010